Apa kabar petualang
kata?
Nulis lagi yak, aku
menulis karena sudah membaca, bisa jadi melalui menulis ini aku bisa dapat
nasihat atau kritikan yang bersifat membangun dari si pembaca, ehe… karena
mungkin, dan mungkin juga karena aku termasuk anak yang mempunyai tipikal males
ngomong, dan sekali ngomong bikin orang tertampar (katanya)., eh, emang dasar
lidah yang tak bertulang, dan bikin orang sakit hati sampe mengenang.
Astaghfirullah haladziiim.
Pelarian menulis
mungkin cocok untuk orang yang katanya “introvet” banget. Iya, dengan menulis
semua isi hati kecilnya terluapkan. Anak “introvert” mungkin tak bisa meluapkan
isi hatinya dengan baik, dan mungkin juga kebanyakan mikir. Iya, kebanyakan
mikirin kata orang dan gak bisa bersikap bodo amat. Hal kecilpun dia selalu
mempertanyakan dan menelusurinya sampai ke akar-akar.
Karena begini begitu
iri. Iya, sifat manusia salah satu diantaranya iri. Melihat yang indah, kok
bagus sih, aku jadi pengen deh. Melihat yang unik, kok unik sekali sih, kaan
jadi pengen nih. Melihat yang keren, waww kok keren sih, kan aku jadi gak bisa
move on nih, pengen kayak dia keren, banyak yang ngefans, daaan masih banyak
lagi yang begini begitu yang secara tidak sadar diantara kita semua pasti ada
yang pengen. Iya, pengen atau iri, atau secara tidak langsung latah yang tidak
disadari.
Karena begini begitu
iri. Karena hati ini tak selalu bersih dari bisikan syaitan- syaitan yang
selalu riwa-riwi di antara peredaran darah kita. Iya, ditubuh kita syaitannya
banyak yang riwa riwi. Mungkin iya, paling banyak itu dibagian indra penglihat
dan bagian hati yang paling dalam. Karena begini begitu iri, makanya kita semua
dianjurkan untuk segera mendekatkan diri kepada sang illahi robbi. Tidak hanya
mendekatkan diri saja, tetapi kita harus juga menginstropeksi diri sendiri.
Karena begini begitu
iri. Melihat yang menang dalam kompetisi, kok bisa sih dia yang menang, padahal
kan karyanya ya gitu-gtiu aja, masih bagusan punyaku lo padahal. Kok bisa sih
dia yang terpilih, kan sejauh ini aku yang selalu di depan, kan aku yang selalu
aktif bertanya, kan aku yang selalu menjadi ranking pertama. Nah, itu semua karyanya
si syaitan sehingga kita selalu berburuk sangka pada yang apa kita lihat, dan
tidak bisa mengambil hikmahnya ketika kita belum diberi kemenangan.
Karena begini begitu
iri. Sampai lupa bagaimana caranya kita bersyukur atas nikmat yang Alloh
berikan. Saking lupanya bahwa kita semua tidak tahu kalau Alloh sebenarnya
menginginkan kita semua untuk lebih dekat denganNya dan serius denganNya.
Karena sibuk dengan begini begitu iri, bisa jadi ibadah kita tidak jenak,
ketika ambil wudhu begitu amat sangat cepat, bagaikan kecepatannya cahaya.
Sholat yang tidak khusyuk, karena sibuk dengan begini begitu iri, sholatnya
menjadi kurang dari tiga menit sudah selesai. Iya, tidak begitu sadar bahwa
kita semua disibukkan dengan begini begitu iri.
Karena begini begitu
iri. Seharunya kita lebih termotivasi. Iya, termotivasi kepada mereka yang istiqomah
dalam menjalani perjalanan ini. Mereka yang selalu bersyukur atas pemberian
sang illahi robbi. Makan minum secukupnya. Tidak berlebihan, pandai dalam
bersyukur, istiqomah, dan hati kecilnya selalu menyiapkan bekal untuk di negeri
akhirat nanti.
Karena begini begitu
iri. Hanyalah sang pembolak balik hati yang maha mengatahui. Iri dengan
kebaikan orang, iri dengan prestasi orang, iri dengan harta orang, iri dengan
kebahagiaan orang, daaan masih banyak lagi. Oleh karena dari itu semua, hanya
sang pembolak balik hati yang mentakdirkan, tugas kita hanyalah memperbaiki diri
dan ingat bahwa bekal untuk hidup di negeri akhirat nanti masihlah kurang, dan
kita harus mempersiapkannya mulai dari sekarang. Iya, itu lebih tepatnya. Kita
harus memperbaiki diri, instropeksi diri, dan belajar istiqomah untuk meraih
ridhoNya.
Karena begini begitu
iri. Marilah kita bertemu dengan sahabat yang sholih dan sholihah yang
dikirimkan oleh Alloh untuk menemani kita dalam menjalankan kebaikan. Karena surga
terlalu luas jika dihuni diri sendiri. Bertemu dengan berbagai diskusi, tanpa
ada rasa menggurui, menegur tanpa menyakiti, memberi contoh yang baik dalam
bertindak, dan menguatkan ketika ada musibah yang menghampiri. Mungkin, ada
yang menuliskan “sahabat/teman itu yang selalu membuat kita menangis”, dan
mungkin harus diperpanjang lagi yak kalimatnya, atau diklarifikasi lagi. Kalau
di itung-itung atau dipikir-pikir masa iya kita nangis mulu, kapan kita senyum,
tawa, dan canda ria bareng-bareng?. Apakah dibenarkan dalam arti sebuah teman
kalau selalu bikin menangis?, emm,, atau kita perbaiki aja redaksinya, kata
“selalu” diganti dengan kata “jarang”, nah, mungkin bisa itu.
Karena begini begitu
iri. Marilah kita perbaiki cara bertingkah, berperilaku dan berkomunikasi.
Supaya tidak menimbulkan penyakit hati dan pikiran negatif dalam diri. Waaa,
sudah banyak yang aku tulis ternyata, ini semua hasil dari membaca buku yang
memotivasi. Semoga bermanfaat bagi reader, kritik dan saran silakan tinggalkan
di kolom komentar yak.. ehe..
Komentar
Posting Komentar